Rabu, 07 Juni 2017

Pelangi Malam Itu Hilang

“Pelangi Malam Itu Hilang”
Cerpen: Toifah*

 “Dara..!” Teriakan ayah mengagetkanku yang baru saja memejamkan mata.
“Hufht…. Aku shock..! Ada apa sich pagi-pagi buta kayak gini koq udah teriak-teriak..!? Kayak di hutan aja..!” Gumamku. Aku tak menghiraukannya.
Saat aku mencari mimpi indahku di balik selimut, tiba-tiba ada yang menarik selimutku dan berbisik lirih di telingaku.
“Dara…. Bangun, Say…. Udah siang nih..!” Sepertinya aku mengenal suara itu. Suara yang tak asing bagiku. Aku penasaran. Perlahan-lahan aku mencoba untuk membuka mataku. Samar-samar terlihat wajah cantik yang tak asing lagi di mataku dan di hatiku. Ia tersenyum simpul dan kemudian melantunkan sebuah lagu anak-anak yang sangat ku kenal akrab lagu tersebut.
“Happy birthday, Happy birthday, Dara….” Tangan lembutnya menyodorkan kue tart berhias lilin yang berangka 15.
Aku segera memeluk wanita tersebut karena ia adalah seseorang yang ku nanti selama ini.
“Ibu..!” Ku dekap erat ibuku yang sudah bertahun-tahun ku tak pernah melihat wajahnya lagi sejak pertengkaran antara ayah dan ibu yang tak ku ketahui pasti sebabnya.
Di hari yang kelabu itu, aku mendengar ibu menangis dan melihatnya mengemasi pakaian. Aku yang saat itu baru berusia tujuh tahun merasakan hal yang tak seharusnya ku rasakan. Dan aku tidak bisa berbuat apapun, hanya diam di kamar dan menahan rasa takut.
 Setiap waktu aku selalu berdoa agar ibu kembali lagi kesini, di sampingku. Akhirnya Allah mengabulkan doaku. Tepat di hari ulang tahunku ini, aku bisa memeluk sosok yang aku cari selama ini.
Kado terindah tahun ini aku terima dari ayah dan ibuku. Ya, mereka menjelaskan kepadaku bahwa mereka sudah baikan dan mereka janji tak akan bertengkar lagi. Aku sangat senang mendengarnya.
“Benar-benar hadiah yang sangat istimewa.” Pikirku.
Ayah menyuruhku untuk mandi dan berpakaian rapi karena kami akan pergi ke suatu tempat spesial yang sudah disiapkan oleh ayah. Aku segera bergegas mengambil langkah seribu menuju kamar mandi.
* * *
 “Dara sayang, ini Ibu bawakan kado untukmu, Ibu harap kamu akan menjaganya dengan baik.” Kata ibu. Aku mengangguk senang.
Tiba-tiba mobil yang kami kendarai melaju dengan arah yang tak beraturan. Rupanya mesin mobil kami ada yang rusak. Ayah menginjak rem mobil, tapi tak berpengaruh apapun. Mobil terus melaju dengan seenaknya. Tiba-tiba dari arah persimpangan jalan ada sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dalam hitungan detik, terdengar suara yang tak terdengar jelas oleh telingaku. Ku tatap mata ibu yang juga penuh rasa takut. Aku tak tahu, entah apa yang telah terjadi. Kemudian gelap.
* * *
Aku melihat bintang milikku redup. Aku tak mau kehilangan bintangku. Karena bagiku, ibu adalah bintang yang paling terang diantara bintang-bintang yang lain. Ia adalah bintangku.
Malam itu sangat terang, ku tatap bintang yang bertaburan di angkasa. Tiba-tiba ibu merangkulku dari belakang. Aku sempat terkejut, tapi tak lama kemudian aku kembali menikmati indahnya malam itu.
“Bu, lihat deh..! Itu bintang yang paling terang dan yang paling bersinar..” Kataku manja sambil menunjuk ke arah bintang yang ku maksud. Ibu hanya mengangguk dan tersenyum.
“Coba deh lihat ke sekitar bulan purnama itu!” Balas ibu sambil mengarahkan pandangan matanya ke arah sang purnama.
 “Bu, itu pelangi di malam hari, ya..?” Tanyaku sambil menunjuk ke langit.
“Mana ada pelangi di malam hari?” Timpal ibu.
Kemudian aku meyakinkan ibu bahwa yang aku tunjuk adalah pelangi. Dan ibu pun tersenyum. “Benar, itu pelangi.”
Beberapa saat kemudian pelangi itu memudar, warnanya mulai hilang dari tatapan mataku. “Ibu, kenapa pelanginya pergi?” Tanyaku, namun ibu tidak kian menjawab. “Ibu.., Lho? Ibu kemana? Ibu.....”
* * *
“Dara!”
“Ibu..”
“Dara.. Bangun, Nak..” Tiba-tiba suara ayah membangunkanku.
“Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak..” Kata ayah.
“Ayah, Ibu di mana?”
“Ibu ada, dia sudah sehat.” Aku tersenyum lega dan memeluk ayah.
* * *
Aku menyimpan dan memajang rapi hadiah pemberian ibunda tercintaku di atas meja belajar. Sebuah bingkai foto ibu dan diriku waktu kecil. Aku tahu kenapa ayah tidak memberitahuku sebelumnya bahwa ibu sudah tiada, karena ayah mengkhawatirkan keadaanku saat itu.
Setelah aku mengetahuinya dengan keadaan lebih siap, aku menziarahi ibu di tempat peristirahatannya. Aku yakin ibu memiliki tempat yang layak di sana. “Ibu terima kasih untuk waktu sesaat yang kau berikan untukku.”
Kini aku menjalani hidupku bersama ayah. Walaupun hidupku tidak lengkap karena selain aku kembali tidak memiliki ibu, aku pun hanya memiliki satu kaki sebagai pijakanku untuk mengarungi hidupku selanjutnya. Ibu telah memberi kekuatan untukku, bingkai foto itu yang bisa ku bawa kemanapun aku pergi.
 “I love you, Mom.. You are always in my heart..” bisikku dalam hati.

*Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta



TANBIH SEBAGAI PEACE EDUCATION; PENELITIAN TERHADAP PESANTREN SIRNARASA, DUSUN CICEURI, DESA CIOMAS, PANJALU, CIAMIS, JAWA BARAT
Oleh:
Toipah (STAI Sunan Pandanaran)
Pondok Pesantren Sunan Pandanaran

“Adanya toleransi di tengah multikulturalisme sangatlah penting, apalagi kita sebagai Muslim yang mengamalkan Alquran dan sunnah Nabi Muhammad saw, sebagaimana yang tertera dalam QS. Al-Mumtahanah [60]: 8. Sudah sangat jelas bahwa pada ayat ini Allah tidak melarang kita untuk berbuat baik dan adil terhadap orang-orang non-Muslim.”
(Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul)

A.    Pengantar
Istilah “pesantren” pada umumnya identik dengan Islam. Hal tersebut dikarenakan poros peradaban umat Islam di Indonesia salah satunya adalah pesantren. Kuatnya pola pikir masyarakat bahwa pesantren sebagai icon Islam terkadang menimbulkan beberapan pandangan yang sedikit miring apabila ada sebuah pesantren yang dikunjungi oleh non muslim atau golongan minoritas. Hal tersebut dikarenakan minimnya pemahaman masyarakat terkait konsep toleransi dan perbedaan yang menjadi syarat mutlak dalam sebuah kehidupan.
Pesantren yang merupakan tempat menimba ilmu pengetahuan agama (baca: Islam) sudah sewajarnya apabila banyak orang yang datang dari berbagai wilayah. Artinya, pluralitas dalam sebuah pesantren merupakan hal yang pasti. Banyaknya pendatang dari berbagai daerah tentu akan membawa adat dan budaya yang bervariasi, sehingga seringkali terjadi kesalahpahaman yang memicu timbulnya konflik. Oleh karena itu, sebuah pesantren “dituntut” untuk menanamkan serta menumbuhkan sikap toleransi demi menjaga keharmonisan dan keseimbangan kehidupan di pesantren.
Lain ladang, lain belalang. Setiap pesantren memiliki cara dan trik masing-masing untuk menangani konflik dan menumbuh-kembangkan nilai-nilai toleransi pada santri. Hal tersebut dapat diambil dari salah satu pesantren yang berada di Ciamis, Pesantren Sirnarasa. Pesantren tersebut memiliki cara unik sekaligus edukatif dalam mempromosikan nilai toleransi dan perdamaian. Upaya yang dilakukan Pesantren Sirnarasa dalam membangun perdamaian tersebut tidak berarti selalu berjalan mulus, karena dalam sebuah ajaran pasti ada yang mendukung dan bahkan ada pula yang mencela.
Laporan ini memaparkan hasil penelitian yang dilakukan di Pesantren Sirnarasa, Ciamis yang dinaungi oleh Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul al-Qadiri an-Naqsyabandi al-Kamil (kemudian disebut Abah Aos). Dalam laporan ini, peneliti memberikan gambaran terkait peace education yang diajarkan oleh seorang mursyid kepada murid-muridnya, baik yang bermukim di pesantren maupun yang di luar pesantren.

B.     Sekilas tentang Pesantren
Pesantren Sirnarasa bertempat di Dusun Ciceuri, Desa Ciomas, Panjalu, Ciamis, Jawa Barat. Ia berada di bawah naungan seorang mursyid Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyyah (TQN) yang akrab dipanggil Abah Aos. Pada mulanya, pesantren ini bernama al-Islah.[1] Setelah Abah Aos berguru kepada mursyid silsilah ke-37, Syekh Shohibul Wafa Tajul Arifin (kemudian disebut Abah Anom), kemudian diubah menjadi ‘”Sirnarasa” atas petunjuk Abah Anom melalui surat yang ditujukan untuk Abah Aos, dimana alamat yang tertera bukan al-Islah, melainkan Sirnarasa. Kejadian ini dianggap oleh Abah Aos sebagai petunjuk perubahan nama untuk pesantren yang ia pimpin.
Menurut penjelasan dari beberapa narasumber, Sirnarasa memiliki arti filosofis. “Sirna” yang berarti hilang atau lenyap, dan “Rasa” dalam istilah tasawuf merupakan segala macam perasaan yang ada dalam diri (hati) manusia. Oleh karena itu, pesantren ini memiliki motto; tidak punya apa-apa, tidak tahu apa-apa, dan tidak ingin apa-apa. Artinya, segala yang ada merupakan milik-Nya, segala bentuk pengetahuan adalah pengetahuan-Nya, dan yang diinginkan hanyalah Dia, Sang Pencipta yang Maha Segalanya.[2]
Pesantren ini bercorak tasawuf.[3] Ajaran yang diamalkan adalah TQN Suryalaya.[4] Disebut TQN Suryalaya karena segala amaliyah dzikir yang dilakukan di pesantren ini merupakan amaliyah-amaliyah yang dibawa oleh Abah Aos dari mursyid sebelumnya (baca: Abah Anom), yakni TQN Pondok Pesantren Suryalaya yang berlokasi di Tasikmalaya.

C.    Toleransi; Hak-hak Minoritas dan Pembangunan Perdamaian dalam Pandangan Pesantren
1.    Toleransi
Penelitian yang dilakukan pada tanggal 17-29 Januari 2017 dengan teknik observasi dan wawancara dengan sepuluh narasumber yang terdiri dari pimpinan pesantren, pengurus pesantren, ustadz, ustadzah, santriwan, santriwati, masyarakat, wakil talqin,[5] dan beberapa narasumber terkait yang berlokasi di Yayasan Pesantren Sirnarasa. Penelitian ini secara umum memberikan pemahaman bahwa toleransi merupakan sikap untuk mampu menerima siapapun dan saling menghargai tanpa memilih dan membeda-bedakan agama apapun serta negara manapun.[6] Hal tersebut dikarenakan di dalam tanbih,[7] kata “agama dan negara” tidak menyebutkan agama apa dan negara yang mana.
Dalam tanbih disebutkan beberapa poin dari wasiat Syekh Abdullah Mubarok bin Nur Muhammad ra. (kemudian disebut Abah Sepuh) [8] yang harus dijalankan oleh murid-muridnya, yakni;
1)   Terhadap orang-orang yang lebih tinggi daripada kita, baik secara dhohir maupun batin, maka harus menghormati, dan hidup saling menghargai.
2)   Terhadap orang-orang yang sederajat, maka harus bersikap rendah hati, dan jangan sampai terjadi persengketaan serta bergotong royong dalam melaksanakan perintah agama dan negara.
3)   Terhadap orang-orang yang keadaannya di bawah kita, janganlah menghinanya atau berbuat yang tidak senonoh, dan bersikap angkuh. Sebaliknya, harus sadar untuk berbelas kasihan serta menyenangkan hati mereka.
4)   Terhadap fakir miskin harus memberikan kasih sayang, bersikap ramah tamah, serta bermanis budi. Bersikap murah tangan mencerminkan bahwa hati kita sadar.[9]

Selain wasiat di atas, ada beberapa kata-kata mutiara yang selalu dijadikan sebagai pedoman dalam bertoleransi.[10] Pertama, jangan benci kepada ulama sezaman. Kedua, jangan menyalahkan ajaran orang lain. Ketiga, jangan memeriksa murid orang lain. Keempat, jangan meninggalkan tempat apabila tersinggung dengan perkataan orang lain. Harus menyayangi orang yang membencimu.
Terkait persoalan agama, pesantren ini berpijak pada Q.S. al-Kafirun [109]: 6, Bagimu agamammu, bagiku agamaku. Maksudnya adalah kewajiban untuk hidup rukun dan damai, jangan sampai terjadi perselisihan,saling menghargai, namun tidak dicampur dengan keyakinan agama lain.[11]
Di luar tanbih, pesantren ini tidak mengenal subordinasi gender dalam menjalankan ibadah. Misalnya, dalam melaksanakan salat Jumat. Semua santri yang tidak memiliki halangan wajib mengikuti salat Jumat berjamaah, baik santri putra maupun putri. Begitu pula dengan amaliyah keseharian lainnya.

2.    Hak-hak Minoritas
Bagi mereka golongan minoritas memiliki hak yang sama dengan mayoritas. Artinya, tidak boleh mengurangi hak siapapun termasuk orang asing dan golongan minoritas. Seperti yang telah dicontohkan oleh Abah Aos ketika dikunjungi oleh non muslim, ia tidak mengurangi rasa hormatnya sedikitpun, bahkan ia memberikan peci, sorban, atau semacamnya sebagai simbol dari penghormatan terhadap mereka.
Pernah dikisahkan bahwa suatu hari ada non muslim yang datang ke Pesantren Sirnarasa, kemudian Abah Aos meminta wakil talqin untuk men-talqin non muslim tersebut. Setelah selesai melakukan perintah dari Abah, wakil talqin tersebut bertanya kepada Abah, mengapa ia harus men-talqin orang tersebut, padahal ia bukan seorang muslim dan belum mengucapkan kalimat syahadat. Kemudian Abah menjawab, “Talqin-nya orang tersebut merupakan syahadat baginya”.[12]
Kisah tersebut menggambarkan bahwa sedikitpun sang mursyid tidak membeda-bedakan mahluk ciptaan Allah SWT. Ia tidak memberikan sekat antara orang yang sudah dikenal, orang asing, non muslim dan umat muslim sendiri, karena semua manusia merupakan saudara satu sama lain, karena masih keturunan Nabi Adam as.

3.    Pembangunan Perdamaian
Dalam sejarahnya, Pesantren Sirnarasa tidak memiliki catatan kriminal atau aksi kekerasan. Apabila ada konflik yang terjadi, maka sudah tentu pesantren ini memiliki jalan damai untuk menyelesaikan permasalahan. Seperti tradisi yang dilakukan oleh para santri, misalnya.
Jika ada masalah, maka para santri tersebut akan mencari jalan tengah dengan cara musyawarah antara dua pihak yang bersangkutan.[13] Namun apabila sekiranya mereka tidak dapat menyelesaikan persoalan tersebut, barulah dilakukan mediasi dengan menghadirkan ketua rois atau roisah.[14] Langkah yang kemudian diambil adalah sharing kejujuran dan mengadakan perjanjian damai agar tidak ada yang tersinggung, introspeksi diri, dan memperbaiki sikap serta hubungan di antara mereka.[15]
Contoh selanjutnya, apabila ada masalah yang menimpa pesantren, maka sikap yang diambil dari pihak pesantren adalah menahan diri. Hal tersebut dikarenakan Pesantren Sirnarasa tumbuh diiringi dengan “tanbih” yang merupakan pedoman pesantren. Dalam tanbih disebutkan bahwa “harus menyayangi orang yang membencimu”.  Sebuah wasiat dari seorang guru untuk diamalkan. Oleh karena itu, isi tanbih tersebut bukan hanya sekedar wacana, melainkan pijakan untuk setiap tindakan nyata.




D.    Peran Pesantren
1.    Promosi Nilai-nilai Toleransi dan Pemenuhan Hak-hak Minoritas yang Pernah dilakukan
Pesantren ini memiliki cara yang khas dalam mempromosikan nilai-nilai toleransi, yakni dengan membacakan tanbih di setiap acara manaqiban yang digelar (layaknya pembacaan UUD 1945 ketika upacara bendera).[16] Langkah selanjutnya yang “akan dilakukan” adalah menyebarkan isi tanbih dengan memodifikasi bentuk atau kalimatnya. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan semua orang agar dapat diterima oleh seluruh dunia, termasuk non muslim, terutama diterima oleh seluruh pesantren.[17]
Tindakan tersebut sudah dapat menggambarkan betapa tidak ada diskriminasi pada setiap golongan, karena golongan minoritas pun memiliki hal yang sama dengan golongan mayoritas dalam bersosialisasi hidup bermasyarakat dan bernegara. Hal tersebut tentu agar semua umat manusia dapat saling menghargai dan mengasihi dengan menanamkan nilai toleransi yang terkandung dalam tanbih.

2.    Faktor-faktor Pendukung
Rencana penyebaran tanbih  ke seluruh pesantren bahkan ke seluruh dunia akan dibantu oleh murid-murid Abah yang tersebar di seluruh belahan dunia. Hal ini akan memudahkan sosialisasi tanbih karena dapat dimodifikasi sesuai dengan konteks dan kondisi masyarakat pada negara masing-masing. Memodifikasi bukan berarti merubah isi tanbih, tetapi mengubah kalimat-kalimatnya agar mudah dipahami serta diterima di kalangan non muslim sekalipun.
Selain itu, Abah merupakan sosok yang sangat produktif. Ia menulis banyak buku dan kitab kuning terkait TQN atau tentang pengetahuan lainnya seputar dunia tasawuf. Sehingga orang yang belum mengenal dan belum pernah bertemu Abah dapat mengenal melalui karya-karyanya.[18] Di samping itu, buku-buku yang ditulis sekarang akan menjadi ilmu abadi sampai masa yang akan datang.

3.    Tantangan dan Problem yang dihadapi
Sejauh ini tanbih hanya dipahami oleh kalangan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyyah saja, karena tanbih belum disebarkan ke luar kalangan. Oleh karena itu, orang-orang yang bukan dari kalangan Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyyah tidak mengetahui apa itu tanbih.[19]
Dalam dunia Pesantren Sirnarasa, terkadang tanbih disalah-artikan oleh para santri. Hal tersebut dikarenakan isi tanbih mengandung makna yang sangat mengunggulkan kasih sayang dan saling menghargai sesama manusia, maka efek yang ditimbulkan adalah penyalahgunaan dan kesalahpahaman pada diri santri yang menggunakan tanbih sebagai senjata ketika ada seorang guru yang memberikan hukuman kepada murid yang nakal atau malas.[20] Padahal tujuan dari perbuatan guru tersebut adalah bentuk teguran agar muridnya tidak berlaku sewenang-wenang dan mau mematuhi peraturan.

E.     Pengalaman Pesantren dalam Pembangunan Perdamaian
1.    Pengalaman Pesantren dalam Menangani Kasus Konflik Bernuansa Agama
Beberapa bulan ini Indonesia digemparkan oleh fatwa MUI yang menyatakan bahwa Ahok merupakan penista agama. Hal tersebut membawa angin segar kepada FPI untuk mengumpulkan jutaan umat Islam agar melakukan perlawanan terhadap Ahok, bahkan tidak menutup kemungkinan adanya maker yang dilakukan oleh para pendemo.
Sehubungan adanya kasus demikian yang semakin memanas diperbincangkan, Abah memberikan dawuh kepada para santrinya untuk melakukan manaqiban setelah salat isyraq, yakni ba’da salat subuh sampai jam 07.00 pada hari dan tanggal yang sama ketika diadakannya serial aksi bela Islam tersebut.[21] Manaqib atau aksi di atas sajadah tersebut bertujuan untuk “menjaga gawang” dan mendoakan semua orang yang mengayomi negara serta menggelar doa bersama agar negara tetap aman.[22] Aksi yang dilakukannya tersebut dapat dikatakan bahwa Pesantren Sirnarasa memiliki peran “dibalik layar” dengan pola ajaran tasawufnya.

2.    Respon dan Tanggapan Masyarakat dalam Upaya Penanganan Konflik Secara Damai
Salah satu ajaran paling kuat dalam tasawuf adalah mematuhi dan mencintai mursyid. Begitu pula dengan yang diterapkan pada pesantren ini. Apapun kesepakatan yang telah dianggap matang oleh para murid tidak akan dijalankan apabila sang mursyid memberikan kebijakan lain.
Oleh karena itu, jika Abah memerintahkan atau melakukan suatu tindakan, maka para murid pun akan mengikuti langkahnya. Dalam hal ini, masyarakat sekitar pesantren pun merupakan pengikut Abah. Oleh karena itu, santri, masyarakat, ikhwan, dan akhwat akan berada di bawah satu komando, Abah.[23]

3.    Tantangan dan Problem yang dihadapi dalam Membangun Perdamaian
Segala tindakan pasti menimbulkan pro dan kontra. Mengingat aksi bela Islam di atas sajadah yang ditekankan oleh Abah, maka ada pihak lain yang menganggap hal tersebut merupakan penyelewengan. Dzikir harian yang merupakan makanan pokok di Pesantren Sirnarasa pun menuai beberapa kritik dari luar pihak. Ada yang mengatakan bahwa dzikir dan amalan yang dilakukan di Pesantren Sirnarasa merupakan dzikir yang berlebihan, bahkan ada pula yang tidak segan beranggapan bahwa Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyyah di pesantren ini merupakan aliran sesat. Namun sejauh itu, pihak Pesantren Sirnarasa beserta pengikutnya tidak pernah membalas hujatan dari pihak yang kontra.[24] Jadi, dzikir-dzikir yang diamalkan di Pesantren Sirnarasa adalah cara untuk mempererat hubungan dengan Allah. Itulah langkah awal yang dilakukan untuk berdakwah dan untuk berinteraksi dengan sesama manusia.

F.     Kesimpulan dan Rekomendasi
Jika kebanyakan orang beranggapan bahwa orang yang berthariqah merupakan orang yang selalu menjalankan amaliyah-amaliyah dzikir yang berlebihan (di luar amaliyah orang pada umumnya), menutup diri, memberikan sekat antara orang-orang yang di atas dan yang di bawah, berteman hanya dengan orang Islam, dan anti terhadap orang yang di luar golongannya, maka pandangan tersebut penulis katakan “kurang tepat”. Karena pada kenyataannya, orang-orang yang mengikuti thariqah (salah satunya di pesantren ini) justru memiliki sikap toleransi dan cinta damai yang luar biasa tanpa melihat status kewarganegaraan, agama dan keyakinan, serta budaya yang berbeda.
Mini riset yang dilakukan selama dua minggu ini cukup memberikan gambaran terkait hablu min an-Naas dan hablu min Allah yang diajarkan di pesantren ini. Sesuatu unik yang baru penulis temukan di pesantren ini dan belum pernah ditemukan di tempat lain adalah terkait tanbih yang dijadikan sebagai dogma atau ajaran bahkan prinsip hidup yang diajarkan di pesantren tersebut.


Daftar Pustaka

Buku dan Jurnal
Amin, Lidi, Suryalaya Bukan Panggung Sandiwara; Perjalanan Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul, Ciamis: Yayasan Lautan Tanpa Tepi, t.t.

Machali, Imam, “Peace Education dan Deradikalisasi Agama” dalam Jurnal Pendidikan Islam, Vol. II, No. 1, Juni 2013.

Maghribi, Mahmud J. al-, Mutiara  TQN PP Suryalaya 38: Kesaksian untuk Beliau , Cet. II, Bandung: CV. Wahana Karya Grafika, 2016.

Maslul, Muhammad Abdul Gaos Saefullah, Amaliyah Mursyid: Dzikir Harian, Khotaman, Tawassul, Silsilah, dan Sholat-sholat, Cet. III, Bandung: CV. Wahana Karya Grafika, 2014.

Mathrudi, Ismail Rasyid al-, Ketenangan adalah Kemenangan; dari Kaki Gunung Sawal Menuju Puncak Gunung Sinai, Bandung: CV. Wahana Karya Grafika, 2016.

Naisabury, Imam al-Qusyairi an-, Risalah Qusyairiyah: Induk Ilmu Tasawuf, terj. Mohammad Luqman Hakiem, Surabaya: Risalah Gusti, 2014.

Pranawati, Rita dkk, “Penanganan Konflik Secara Damai”, dalam Fahsin M. Faal, et.al, Modul Pendidikan Perdamaian di Pesantren Berspektif Islam dan HAM, Yogyakarta: CSRC, 2015.


Wawancara
Ahmadi, mudarris, Jumat, 20 Januari 2017.

Anis Khoirunnisa, pengurus, Sabtu, 21 Januari 2017.

Danial, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID), Kamis, 19 Januari 2017.

Habibah, Ketua Roisah, Rabu, 18 Januari 2017.

Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul, pengasuh Yayasan Pesantren Sirnarasa, Selasa, 17 Januari 2017.

Nani, warga Ciomas, Jumat, 20 Januari 2017.

Ridwan, mudarris, Sabtu, 21 Januari 2017.

Sarah, ketua keamanan (pi), Kamis, 19 Januari 2017.
Solehuddin, wakil talqin Abah Aos, Jumat, 20 Januari 2017.

Siti Sa’adah, santri, Minggu, 22 Januari 2017.



[1] Ismail Rasyid al-Mathrudi, Ketenangan adalah Kemenangan; dari Kaki Gunung Sawal Menuju Puncak Gunung Sinai (Bandung: CV. Wahana Karya Grafika, 2016), hlm.109.
[2] Hasil wawancara dengan H. Solehuddin, wakil talqin Abah Aos, Jumat, 20 Januari 2017.
[3] Tasawuf menurut istilah yaitu upaya mensucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah Swt. Kegiatan yang berkenaan dengan pembinaan mental ruhaniah agar selalu dekat dengan Tuhan. Lihat Imam al-Qusyairi an-Naisabury, Risalah Qusyairiyah: Induk Ilmu Tasawuf, terj. Mohammad Luqman Hakiem (Surabaya: Risalah Gusti, 2014), hlm. 345.
Adapun makna dari kata tasawuf yang lebih mendalam, yakni tasawuf terdiri dari huruf ta (taubatan nasuha), shod (shofaul qolbi/ bersih hati), wau (wilayah), dan fa (fana). Jadi amalan tasawuf adalah amalan bagi orang-orang yang memiliki dosa untuk membersihkan hati agar mendapatkan ampunan dari Allah. Lihat Lidi Amin, Suryalaya Bukan Panggung Sandiwara; Perjalanan Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul (Ciamis: Yayasan Lautan Tanpa Tepi, t.t.), hlm. 123.
[4] Thariqah sejatinya adalah jalan menuju Allah SWT. Lihat Mahmud J. al-Maghribi, Mutiara  TQN PP Suryalaya 38: Kesaksian untuk Beliau , Cet. II (Bandung: CV. Wahana Karya Grafika, 2016), hlm. 107.
[5] Talqin merupakan pintu pembuka agar kalimah thoyyibah dapat masuk ke dalam ruh. Talqin musti dilaksanakan sebagai awalan, seperti menentukan arah sebelum memulai perjalanan, seperti menentukan targert sebelum pemburu membidik sasaran, atau dapat diibaratkan talqin itu seperti membeli tiket jalan tol untuk kemudian mengambil satu jalan saja. Talqin merupakan sarana awal untuk mencintai Allah sebagai tujuan akhir. Lihat Lidi Amin, Suryalaya Bukan Panggung Sandiwara, hlm. 5.
[6] Pemahaman terhadap toleransi sangat penting dalam usaha membangun masyarakat yang damai dan penuh kasih sayang, terutama masyarakat yang multikultural. Lihat Imam Machali, “Peace Education dan Deradikalisasi Agama” dalam Jurnal Pendidikan Islam, Vol. II, No. 1, Juni 2013, hlm. 45.
[7] Tanbih merupakan sebuah wasiat dari seorang guru untuk muridnya dan bersifat turun temurun dari setiap generasi. Tanbih ini awal mulanya adalah nasihat yang diberikan Abah Sepuh. Sebagian kecil kutipan yang diambil dari isi tanbih adalah “wasiat kepada segenap murid-murid, berhati-hatilah dalam segala hal, jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan agama dan negara.” Lihat Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul, Amaliyah Mursyid: Dzikir Harian, Khotaman, Tawassul, Silsilah, dan Sholat-sholat, Cet. III (Bandung: CV. Wahana Karya Grafika, 2014), hlm. xi.
[8] Ia merupakan silsilah TQN ke-36. yang merupakan ayah dari Abah Anom yang merupakan guru dari Abah Aos.
[9] Ibid., hlm. xii.
[10] Ibid., hlm. xiv.
[11] Ibid., hlm. xiii.
[12] Wawancara dengan Habibah, Ketua Roisah Pesantren Sirnarasa, Rabu, 18 Januari 2017.
[13] Wawancara dengan Siti Sa’adah, santri, Minggu, 22 Januari 2017.
[14] Mediasi merupakan bentuk negosiasi antara pihak yang berkonflik dan melibatkan pihak ketiga dengan tujuan untuk membantu menyelesaikan konflik yang bersifat kompromi. Lihat Rita Pranawati dkk, “Penanganan Konflik Secara Damai”, dalam Fahsin M. Faal, et.al, Modul Pendidikan Perdamaian di Pesantren Berspektif Islam dan HAM (Yogyakarta: CSRC, 2015), hlm. 255.
[15] Wawancara dengan Anis Khoirunnisa, pengurus komplek putri Pesantren Sirnarasa, Sabtu, 21 Januari 2017.  
[16] Manaqiban merupakan pengajian yang di dalamnya disisipkan perjalanan hidup Ruh Qudus, Guru Suci, Juru Selamat. Di dalamnya dikawal dengan amaliyah tanbih, dzikir, dan amaliyah-amaliyah lain. Lihat Lidi Amin, Suryalaya Bukan Panggung Sandiwara, hlm. 67.
[17] Wawancara dengan Habibah, Ketua Roisah Pesantren Sirnarasa, Rabu, 18 Januari 2017.
[18] Wawancara dengan Ust. Ahmadi, mudarris (guru), Jumat, 20 Januari 2017.
[19] Wawancara dengan Pak Danial, dosen Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID), Kamis, 19 Januari 2017.
[20] Wawancara dengan Sarah, ketua keamanan (pi) Pesantren Sirnarasa, Kamis, 19 Januari 2017.
[21] Muhammad Abdul Gaos Saefullah Maslul, pengasuh Yayasan Pesantren Sirnarasa, Selasa, 17 Januari 2017.
[22] Dalam hal ini Abah meminta agar segenap santri beserta pihak pesantren bermain sebagai penjaga gawang, karena jika semuanya menjadi pemain depan, maka gawang akan kebobolan oleh lawan. Jadi, doa bersama bertujuan agar diketahui mana yang benar-benar membela Islam, mana yang hanya ingin mengacaukan negara.
[23] Wawancara dengan Ibu Nani, warga Ciomas, Jumat, 20 Januari 2017.
[24] Wawancara dengan Ust. Ridwan, mudarris (guru), Sabtu, 21 Januari 2017.