Rabu, 07 Juni 2017

Pelangi Malam Itu Hilang

“Pelangi Malam Itu Hilang”
Cerpen: Toifah*

 “Dara..!” Teriakan ayah mengagetkanku yang baru saja memejamkan mata.
“Hufht…. Aku shock..! Ada apa sich pagi-pagi buta kayak gini koq udah teriak-teriak..!? Kayak di hutan aja..!” Gumamku. Aku tak menghiraukannya.
Saat aku mencari mimpi indahku di balik selimut, tiba-tiba ada yang menarik selimutku dan berbisik lirih di telingaku.
“Dara…. Bangun, Say…. Udah siang nih..!” Sepertinya aku mengenal suara itu. Suara yang tak asing bagiku. Aku penasaran. Perlahan-lahan aku mencoba untuk membuka mataku. Samar-samar terlihat wajah cantik yang tak asing lagi di mataku dan di hatiku. Ia tersenyum simpul dan kemudian melantunkan sebuah lagu anak-anak yang sangat ku kenal akrab lagu tersebut.
“Happy birthday, Happy birthday, Dara….” Tangan lembutnya menyodorkan kue tart berhias lilin yang berangka 15.
Aku segera memeluk wanita tersebut karena ia adalah seseorang yang ku nanti selama ini.
“Ibu..!” Ku dekap erat ibuku yang sudah bertahun-tahun ku tak pernah melihat wajahnya lagi sejak pertengkaran antara ayah dan ibu yang tak ku ketahui pasti sebabnya.
Di hari yang kelabu itu, aku mendengar ibu menangis dan melihatnya mengemasi pakaian. Aku yang saat itu baru berusia tujuh tahun merasakan hal yang tak seharusnya ku rasakan. Dan aku tidak bisa berbuat apapun, hanya diam di kamar dan menahan rasa takut.
 Setiap waktu aku selalu berdoa agar ibu kembali lagi kesini, di sampingku. Akhirnya Allah mengabulkan doaku. Tepat di hari ulang tahunku ini, aku bisa memeluk sosok yang aku cari selama ini.
Kado terindah tahun ini aku terima dari ayah dan ibuku. Ya, mereka menjelaskan kepadaku bahwa mereka sudah baikan dan mereka janji tak akan bertengkar lagi. Aku sangat senang mendengarnya.
“Benar-benar hadiah yang sangat istimewa.” Pikirku.
Ayah menyuruhku untuk mandi dan berpakaian rapi karena kami akan pergi ke suatu tempat spesial yang sudah disiapkan oleh ayah. Aku segera bergegas mengambil langkah seribu menuju kamar mandi.
* * *
 “Dara sayang, ini Ibu bawakan kado untukmu, Ibu harap kamu akan menjaganya dengan baik.” Kata ibu. Aku mengangguk senang.
Tiba-tiba mobil yang kami kendarai melaju dengan arah yang tak beraturan. Rupanya mesin mobil kami ada yang rusak. Ayah menginjak rem mobil, tapi tak berpengaruh apapun. Mobil terus melaju dengan seenaknya. Tiba-tiba dari arah persimpangan jalan ada sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi. Kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami pasrah dengan apa yang akan terjadi. Dalam hitungan detik, terdengar suara yang tak terdengar jelas oleh telingaku. Ku tatap mata ibu yang juga penuh rasa takut. Aku tak tahu, entah apa yang telah terjadi. Kemudian gelap.
* * *
Aku melihat bintang milikku redup. Aku tak mau kehilangan bintangku. Karena bagiku, ibu adalah bintang yang paling terang diantara bintang-bintang yang lain. Ia adalah bintangku.
Malam itu sangat terang, ku tatap bintang yang bertaburan di angkasa. Tiba-tiba ibu merangkulku dari belakang. Aku sempat terkejut, tapi tak lama kemudian aku kembali menikmati indahnya malam itu.
“Bu, lihat deh..! Itu bintang yang paling terang dan yang paling bersinar..” Kataku manja sambil menunjuk ke arah bintang yang ku maksud. Ibu hanya mengangguk dan tersenyum.
“Coba deh lihat ke sekitar bulan purnama itu!” Balas ibu sambil mengarahkan pandangan matanya ke arah sang purnama.
 “Bu, itu pelangi di malam hari, ya..?” Tanyaku sambil menunjuk ke langit.
“Mana ada pelangi di malam hari?” Timpal ibu.
Kemudian aku meyakinkan ibu bahwa yang aku tunjuk adalah pelangi. Dan ibu pun tersenyum. “Benar, itu pelangi.”
Beberapa saat kemudian pelangi itu memudar, warnanya mulai hilang dari tatapan mataku. “Ibu, kenapa pelanginya pergi?” Tanyaku, namun ibu tidak kian menjawab. “Ibu.., Lho? Ibu kemana? Ibu.....”
* * *
“Dara!”
“Ibu..”
“Dara.. Bangun, Nak..” Tiba-tiba suara ayah membangunkanku.
“Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak..” Kata ayah.
“Ayah, Ibu di mana?”
“Ibu ada, dia sudah sehat.” Aku tersenyum lega dan memeluk ayah.
* * *
Aku menyimpan dan memajang rapi hadiah pemberian ibunda tercintaku di atas meja belajar. Sebuah bingkai foto ibu dan diriku waktu kecil. Aku tahu kenapa ayah tidak memberitahuku sebelumnya bahwa ibu sudah tiada, karena ayah mengkhawatirkan keadaanku saat itu.
Setelah aku mengetahuinya dengan keadaan lebih siap, aku menziarahi ibu di tempat peristirahatannya. Aku yakin ibu memiliki tempat yang layak di sana. “Ibu terima kasih untuk waktu sesaat yang kau berikan untukku.”
Kini aku menjalani hidupku bersama ayah. Walaupun hidupku tidak lengkap karena selain aku kembali tidak memiliki ibu, aku pun hanya memiliki satu kaki sebagai pijakanku untuk mengarungi hidupku selanjutnya. Ibu telah memberi kekuatan untukku, bingkai foto itu yang bisa ku bawa kemanapun aku pergi.
 “I love you, Mom.. You are always in my heart..” bisikku dalam hati.

*Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Pandanaran (STAISPA) Yogyakarta



1 komentar: