“Pelangi
Malam Itu Hilang”
Cerpen: Toifah*
“Dara..!” Teriakan ayah mengagetkanku yang
baru saja memejamkan mata.
“Hufht…. Aku shock..! Ada apa
sich pagi-pagi buta kayak gini koq udah teriak-teriak..!? Kayak di hutan
aja..!” Gumamku. Aku tak menghiraukannya.
Saat aku mencari mimpi indahku di
balik selimut, tiba-tiba ada yang menarik selimutku dan berbisik lirih di
telingaku.
“Dara…. Bangun, Say…. Udah siang
nih..!” Sepertinya aku mengenal suara itu. Suara yang tak asing bagiku. Aku
penasaran. Perlahan-lahan aku mencoba untuk membuka mataku. Samar-samar
terlihat wajah cantik yang tak asing lagi di mataku dan di hatiku. Ia tersenyum
simpul dan kemudian melantunkan sebuah lagu anak-anak yang sangat ku kenal
akrab lagu tersebut.
“Happy birthday, Happy birthday,
Dara….” Tangan lembutnya menyodorkan kue tart berhias lilin yang berangka 15.
Aku segera memeluk wanita tersebut
karena ia adalah seseorang yang ku nanti selama ini.
“Ibu..!” Ku dekap erat ibuku yang
sudah bertahun-tahun ku tak pernah melihat wajahnya lagi sejak pertengkaran
antara ayah dan ibu yang tak ku ketahui pasti sebabnya.
Di hari yang kelabu itu, aku
mendengar ibu menangis dan melihatnya mengemasi pakaian. Aku yang saat itu baru
berusia tujuh tahun merasakan hal yang tak seharusnya ku rasakan. Dan aku tidak
bisa berbuat apapun, hanya diam di kamar dan menahan rasa takut.
Setiap waktu aku selalu berdoa agar ibu
kembali lagi kesini, di sampingku. Akhirnya Allah mengabulkan doaku. Tepat di
hari ulang tahunku ini, aku bisa memeluk sosok yang aku cari selama ini.
Kado terindah tahun ini aku terima
dari ayah dan ibuku. Ya, mereka menjelaskan kepadaku bahwa mereka sudah baikan
dan mereka janji tak akan bertengkar lagi. Aku sangat senang mendengarnya.
“Benar-benar hadiah yang sangat
istimewa.” Pikirku.
Ayah menyuruhku untuk mandi dan
berpakaian rapi karena kami akan pergi ke suatu tempat spesial yang sudah
disiapkan oleh ayah. Aku segera bergegas mengambil langkah seribu menuju kamar
mandi.
* * *
“Dara sayang, ini Ibu bawakan kado untukmu,
Ibu harap kamu akan menjaganya dengan baik.” Kata ibu. Aku mengangguk senang.
Tiba-tiba mobil yang kami kendarai
melaju dengan arah yang tak beraturan. Rupanya mesin mobil kami ada yang rusak.
Ayah menginjak rem mobil, tapi tak berpengaruh apapun. Mobil terus melaju
dengan seenaknya. Tiba-tiba dari arah persimpangan jalan ada sebuah truk yang
melaju dengan kecepatan tinggi. Kami tak bisa berbuat apa-apa. Kami pasrah
dengan apa yang akan terjadi. Dalam hitungan detik, terdengar suara yang tak
terdengar jelas oleh telingaku. Ku tatap mata ibu yang juga penuh rasa takut.
Aku tak tahu, entah apa yang telah terjadi. Kemudian gelap.
* * *
Aku melihat bintang milikku redup.
Aku tak mau kehilangan bintangku. Karena bagiku, ibu adalah bintang yang paling
terang diantara bintang-bintang yang lain. Ia adalah bintangku.
Malam itu sangat terang, ku tatap
bintang yang bertaburan di angkasa. Tiba-tiba ibu merangkulku dari belakang.
Aku sempat terkejut, tapi tak lama kemudian aku kembali menikmati indahnya
malam itu.
“Bu, lihat deh..! Itu bintang yang
paling terang dan yang paling bersinar..” Kataku manja sambil menunjuk ke arah
bintang yang ku maksud. Ibu hanya mengangguk dan tersenyum.
“Coba deh lihat ke sekitar bulan
purnama itu!” Balas ibu sambil mengarahkan pandangan matanya ke arah sang
purnama.
“Bu, itu pelangi di malam hari, ya..?” Tanyaku
sambil menunjuk ke langit.
“Mana ada pelangi di malam hari?” Timpal
ibu.
Kemudian aku meyakinkan ibu bahwa
yang aku tunjuk adalah pelangi. Dan ibu pun tersenyum. “Benar, itu pelangi.”
Beberapa saat kemudian pelangi itu
memudar, warnanya mulai hilang dari tatapan mataku. “Ibu, kenapa pelanginya
pergi?” Tanyaku, namun ibu tidak kian menjawab. “Ibu.., Lho? Ibu kemana? Ibu.....”
* * *
“Dara!”
“Ibu..”
“Dara.. Bangun, Nak..” Tiba-tiba suara
ayah membangunkanku.
“Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Nak..”
Kata ayah.
“Ayah, Ibu di mana?”
“Ibu ada, dia sudah sehat.” Aku
tersenyum lega dan memeluk ayah.
* * *
Aku menyimpan dan memajang rapi
hadiah pemberian ibunda tercintaku di atas meja belajar. Sebuah bingkai foto
ibu dan diriku waktu kecil. Aku tahu kenapa ayah tidak memberitahuku sebelumnya
bahwa ibu sudah tiada, karena ayah mengkhawatirkan keadaanku saat itu.
Setelah aku mengetahuinya dengan keadaan
lebih siap, aku menziarahi ibu di tempat peristirahatannya. Aku yakin ibu
memiliki tempat yang layak di sana. “Ibu terima kasih untuk waktu sesaat yang
kau berikan untukku.”
Kini aku menjalani hidupku bersama ayah.
Walaupun hidupku tidak lengkap karena selain aku kembali tidak memiliki ibu,
aku pun hanya memiliki satu kaki sebagai pijakanku untuk mengarungi hidupku
selanjutnya. Ibu telah memberi kekuatan untukku, bingkai foto itu yang bisa ku
bawa kemanapun aku pergi.
“I love you, Mom.. You are always in my
heart..” bisikku
dalam hati.
*Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Pandanaran
(STAISPA) Yogyakarta
Haru Biru..
BalasHapus